Kamis, 09 Oktober 2014

SURAT CINTA BUAT ROSULULLOH

Berawal dari kegemaran saya membaca sesuatu yang saya anggap menarik, ketika saya membaca sebuah majalah CAHAYA NABAWY, saya tertarik pada sebuah judul ya’ni “SURAT CINTA BUAT ROSULULLOH”, sayapun membacanya dan saya terharu  hingga saya ingin mengabadikannya dengan mencatatnya dalam akun FB saya agar saya bisa berbagi dengan teman-teman. Mudah-mudahan catatan ini bermanfaat. Amin,,

    Viena Falloh, seorang pelajar Jakarta Selatan menyatakan jatuh cinta kepada Rosululloh gara-gara ketahuan nyontek waktu ulangan. Lalu ia diberi hukuman membaca sejarah hidup Rosululloh. Hukuman itulah yang rupanya menjadi awal proses kecintaan Viena kepada Rosululloh SAW.
    Atau juga Isti Prihandini, seorang aktifis kampus UI Jakarta. Aktifitasnya yang berjibun membuat dia kecapean setiap malam. Pada suatu malam ia menulis surat cinta buat Rosululloh dan inilah isinya :

  Muhammad kekasihku,,
   Bukankah cinta itu harus diwujudkan dengan melakukan apa yang engkau contohkan? Engkau tak pernah mengeluh,, secapek apapun, sesakit apapun. Setelah kutelusuri lembar-lembar Sirah hidupmu, aku tahu betapa sakit yang aku rasakan belum apa-apa dibandingkan hidupmu. Harusnya aku tidak mengeluh,, Karena ketika aku capek aku bisa istirahat dikasur yang empuk. Sedangkan engakau, hanya pelapah kurma yang menjadi alas tidurmu. Tak ada kasur empuk, tak ada bantal.
   Aaah…Sudah bukan rahasia lagi bahwa engkau mengalami banyak ujian ketika menyebarkan Islam. Keletihan yang teramat sangat, ancaman penbunuhan, penyiksaan sudah menjadi menu sehari-hari. Apa yang aku alami tidak ada apa-apanya dibandingkan yang engkau alami.Tapi lagi-lagi mengapa aku harus mengeluh?,,

   Kekasihku,,
   Yang aku takutkan adalah aku tidak bisa memandang wajah tampanmu, tidak bisa mendengar merdu suaramu, tidak bisa didekatmu ditaman-taman surga. Padahal itu adalah harapan terbesarku.

   Kekasihku,,
   Aku ingin malam ini kau datang, mengajariku bagaimana menjadi orang yang tidak suka mengeluh. Mengajariku bagaimana menjadi orang yang ihlas. Mengajariku melakukan segala sesuatu hanya untuk mencari ridlo Allah.
   Aku ingin malam ini kau datang menemaniku agar aku bisa mencurahkan langsung tentang perasaanku. Tapi,, mungkinkah malam ini kau datang sedangkan engkau berada nun jauh disana.

   Kekasihku,,
   Aku takut jika tiba-tiba Allah memangilku. Sementara aku belum bisa menghilangkan sifat suka mengeluh. Aku takut jika tiba-tiba Allah menghendaki aku segera menghadapnya, sementara aku belum bisa ikhlas dalam segala hal dan hanya mengharapkan ridloNya.
   Aku ingin cerita tentang engkau , ketika fajar baru saja merekah dihari kedua belas bulan Robi’ul Awal tahun ke-11 hijriah, engkau mengalami peristiwa yang dahsyat . Peristiwa yang mengantarkan engkau pergi ketempat nun jauh disana, untuk selama-lamanya. Terpikirkan suatu hal, engkau yang bersih dari dosa dan tak pernah mengeluh saja menangis saat datang peristiwa dahsyat itu. Lalu bagaimana dengan aku yang suka mengeluh ini?,,

   Kekasihku,,
    Aku ingin kau datang malam ini,, mengajariku bagaimana mencintai sepenuh hati. Mencintai yang di wujudkan dengan kemauan meneladani sifat-sifatmu dan melaksanakan ajaran-ajaranmu.

   Kekasih harapanku,,
    Disini aku menunggu “mobil penjemput” yang akan mengantarkan aku berjumpa denganmu. Aku masih menunggu sambil mencoba dan terus belajar mencintaimu dengan sepenuh hati. Aku ingin bisa mencintaimu dengan cinta yang tidak hanya diwujudkan dengan kata-kata.

يا نبي سلام عليك    يارسول سلام عليك
يا حبيب سلام عليك      صلوات الله عليك
 
  Mudah-mudahan catatan ini bermanfaat bagi kita dan menambah kecintaan kita terhadap Rosululloh dengan satu harapan kita akan mendapatkan SYAFAATnya kelak dihari kiamat. Amin,,
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

Tentang Perempuan Menopause (Ayisah)

Anton Cokerz
18 September 2014 pukul 19:27

assalamu alikum
mulai umur berapa wanita akan berhenti dari haid nya menurut pandangan ulama fiqh


===============



JAWABAN

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh


Alhamdulillah, Allah Maha Pengasih, Maha Pemurah, Maha Pemelihara dan Maha mencurahkan hidayah, memberikan pertolongan kepada hambanya, sang pemikul amanah kekhalifahan untuk mengejawantahkan ideologi Rahmatan lil Alamin.
Shalawat dan salam kiranya selalu hadir meliputi baginda Rasulullah Al-Musthafa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi Khatamun nabiyyin, pembawa berkah pencerahan, mengkader sahabatnya menjadi panutan, bintang keteladanan bagi ummatnya, sehingga Risalahnya ya’ni Addinul Islam tetap aktual. Dialah Nabi pemilik kekayaan dunia bila beliau berkehendak, namun tetap tidur beralas tikar. Seribu malaikat menyangga tubuh manusia mulia kakek Hasan dan Husain, pemimpin pemuda-pemuda ahli surga.

Pada usia berapakah batas minimal perempuan mengalami masa menopause (sin al-ya’s) menurut perspektif Fiqh? Hal inilah yang dipertanyakan oleh sahabat fillah Anton Cokerz. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmatnya.

Maka dalam menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh sahabat fillah Anton Cokerz tersebut diatas berdasar literatur yang terdapat didalam kitab-kitab klasik mu’tabar yang kami jadikan sebagai referensi, kami segenap anggauta musyawirin MTTM memiliki pandangan dan kesimpulan sebagai berikut:

Menopause adalah sebuah masa bagi perempuan dimana pada masa itu perempuan tidak lagi mengalami menstruasi (haidl) dan dalam istilah Fiqh perempuan yang tidak lagi mengalami menstruasi (haidl) disebut Ayisah. Adapun batas minimal usia perempuan mengalami menopause menurut perspektif Fiqh adalah terinci sebagai berikut:
·        Menurut sebagian Ulama’ batas minimal perempuan mengalami masa menopause adalah usia 50 tahun sesuai dengan pendapat Imam Ibnu Sya’ban.
·        Menurut sebagian Ulama’ yang lain batas minimal perempuan mengalami masa menopause adalah usia 60 tahun sesuai dengan pendapat Imam Ibnu Syas dan Imam Malik.
·        Menurut sebagian Ulama’ yang lain batas minimal perempuan mengalami masa menopause adalah usia 62 tahun.  Ini adalah pendapat yang shahih dan paling masyhur seperti yang dikemukakan oleh Imam Nawawi.
Perbedaan pendapat dikalangan Ulama’ Fiqh dalam masalah ini tidak hanya berhenti sampai disitu karena masih ada qil yang menyatakan bahwa perempuan mengalami masa menopause adalah pada usia 70 tahun, 85 tahun, 90 tahun dan bahkan terdapat qil yang menyatakan bahwa tidak ada masa menopause bagi perempuan karena selama masih hidup, selalu ada kemungkinan bagi perempuan mengalami menstruasi (haidl).
Wallahu ‘alam bis shawab.


Dasar Pengambilan (1). Oleh Al_Ustadz @ Jojo Finger-looser ItmyLife:

وسن اليأس من الحيض إثنان و ستون سنة هو المعتمد وهذا باعتبار الغالب فلا ينافي ما صرحوا به من أنه لا آخر له لسن الحيض فهو ممكن ما دامت حية.
الثرقاوي ج ١ ص ١٤٧



Dasar Pengambilan (2). Oleh Al_Ustadz @ PrEman Berr Tassbíihh:

قوله : يأس كل النساء ) أي : نساء عصرها على المعتمد فلو رأين أو بعضهن الدم بعد مجاوزة الاثنين وستين ثم انقطع صار ذلك أقصى اليأس في حق أهل عصرهن لا مطلقا شوبري ولو ادعت بلوغها سن اليأس لتعتد بالأشهر صدقت في ذلك ولا تطالب ببينة كما أفتى به الوالد ولا ينافيه قولهم لا يقبل قول الإنسان في بلوغه بالسن إلا ببينة لتيسرها أي : غالبا ؛ لأنها هنا مترتبة على سبق حيض وانقطاعه ، ودعوى سن اليأس وقع تبعا ، وكلامهم في دعواه استقلالا ا هـ شرح م ر ( قوله : لا طوف ) بالرفع عطف على يأس أي : المعتبر يأس كل نساء عصرها لا طوف نساء العالم بأسره وقيل إنه بالجر عطف على ما في قوله بحسب ما يبلغنا خبره أي لا بحسب طوف إلخ والمعنى ظاهر لكن ربما ينافيه قوله : ولا يأس عشيرتها فإنه يقتضي أنه عطف على يأس كذا قيل والظاهر أنه لا منافاة بل جره في غاية الوضوح والتقدير لا بحسب طوف نساء أي : جملة نساء العالم ولا بحسب يأس عشيرتها .
( قوله وأقصاه اثنان وستون سنة ) أي : في الغالب فلا
حاشية البجيرمي على المنهج

(Link Kitab: http://lm.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fislamport.com%2Fd%2F2%2Fshf%2F1%2F20%2F1389.html&h=oAQH8Xlyi&s=1)



Dasar Pengambilan (3). Oleh Al_Ustadz @ PrEman Berr Tassbíihh:

(مسألة) (وحد الاياس خمسون سنة وعنه أن ذلك حده في نساء العجم وحده في نساء العرب ستون سنة) اختلف عن أحمد في السن الذي تصير به المرأة من الآيسات فعنه أوله خمسون سنة لان
المغنى ابن قدامة – 9 – 107



Dasar Pengambilan (4). Oleh Al_Ustadz @ PrEman Berr Tassbíihh:

وذهب المالكية ، والحنابلة فيما نقله الخرقي عن أحمد إلى أن الإياس له حدان : أعلى وأدنى . فأقله عندهم جميعا خمسون سنة . وأعلاه عند المالكية سبعون . قالوا : فمن بلغت سبعين فدمها غير حيض قطعا . ومن لم تبلغ خمسين فدمها حيض قطعا . ولا يسأل النساء - أي ذوات الخبرة - فيهما . وما بين ذلك يرجع فيه للنساء ، لأنه مشكوك فيه . وأعلاه عند أحمد على هذه الرواية ستون سنة ، تيأس بعدها يقينا . وما بين الخمسين والستين من الدم مشكوك فيه ، لا تترك له الصوم والصلاة . وتقضي الصوم المفروض احتياطا . قال ابن قدامة : الصحيح إن شاء الله أنه متى بلغت المرأة خمسين فانقطع حيضها عن عادتها عدة مرات لغير سبب فقد صارت آيسة ، لأن وجود الحيض في حق هذه نادر ، بدليل قلة وجوده ، وقول عائشة :" لن ترى المرأة في بطنها ولدا بعد الخمسين "فإذا انضم إلى هذا انقطاعه عن العادة مرات حصل اليأس من وجوده ، فلها حينئذ أن تعتد بالأشهر ، وإن انقطع قبل ذلك فحكمها حكم من ارتفع حيضها لا تدري ما رفعه - أي فتتربص تسعة أشهر لاستبراء الرحم ، وثلاثة أشهر للعدة - وإن رأت الدم بعد الخمسين على العادة التي كانت تراه فيها فهو حيض في الصحيح ، لأن دليل الحيض الوجود في زمن الإمكان ، وهذا يمكن وجود الحيض فيه ، وإن كان نادرا .
وإن رأته بعد الستين فقد تيقن أنه ليس بحيض لأنه لم يوجد ذلك .
اشتراط انقطاع الدم مدة قبل الحكم بالإياس
الموسوعة الفقهية الكويتية 1-39




Dasar Pengambilan (5). Oleh Al_Ustadz @ Abdulloh Salam:

سن اليأس وهو اثنتان وستون سنة قمرية تقريبية على الصحيح وقيل ستون وقيل خمسون
الشرقاوي ج2 ص330



Dasar Pengambilan (6). Oleh Al_Ustadzah @ Masyruch El Basyirah:

( قوله وهو ) أي سن اليأس
وقوله اثنتان وستون سنة الخ عبارة النهاية وحدوده باعتبار ما بلغهم باثنتين وستين سنة وفيه أقوال أخر أقصاها خمس وثمانون سنة وأدناها خمسون اه
إعانة الطالبين - (ج 4 / ص 41



Dasar Pengambilan (7). Oleh Al_Ustadz @ El FaQot:

ﻭ ﺳﻦ ﺍﻟﻴﺄﺱ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻴﺾ ﺇﺛﻨﺎﻥ ﻭ ﺳﺘﻮﻥ ﺳﻨﺔ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﻭﻫﺬﺍ ﺑﺎﻋﺘﺒﺎﺭ ﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﻓﻼ ﻳﻨﺎﻓﻲ ﻣﺎ
ﺻﺮﺣﻮﺍ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺁﺧﺮ ﻟﺴﻦ ﺍﻟﺤﻴﺾ ﻓﻬﻮ ﻣﻤﻜﻦ ﻣﺎ ﺩﺍﻣﺖ ﺣﻴﺔ.
ﺍﻟﺸﺮﻗﺎﻭﻱ ١ /١٤٧



Dasar Pengambilan (8). Oleh Al_Ustadz @ Ro Fie:

وذكر النووي أن الأشهر أن سن اليأس اثنان وستون سنة، وقيل: خمسون، وقيل: سبعون، وقيل: خمسة وثمانون، وقيل: تسعون، وقيل: لا حد لآخره إذ ما دامت حية فهو ممكن في حقها
اللباب في الفقه الشافعي (ص: 73)



Dasar Pengambilan (9). Oleh Al_Ustadz @ Jojo Finger-looser ItmyLife:

ومن ذلك قول مالك والشافعي إنه ليس لأمد انقطاع الحيض مدة معينة وإنما الرجوع فيه إلى عادة البلدان فإنه يختلف باختلافها فى الحرارة والبرودة مع قول أبي حنفية فى أحد قولية إن أمدة ستون، وفى الرواية الأخرى إن أمدة فى الروميات إلى خمس وخمسين، ومع قول أحمد فى رواية إن أمده خمسون مطلقا فى العربيات وغيرهن، وفى الرواية الأخرى ستون، وفى الرواية الثالثة عنه إن كن عربيات فستون أو عجميات فخمسون فلأول مخفف والثاني مشدد فرجع الأمر إلى مرتبتى الميزان.
الميزان الكبرى – 1 – 139


Referensi Kitab:
1.     Al-Syarqowi. Juz: 1. Hal. 147
2.     Hasyiyah Al-Bujairimi ‘Ala Al-Manhaj
3.     Al-Mughni Ibnu Qudamah. Juz: 9. Hal. 107
4.     Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kutiyah. Juz: 1. Hal. 39
5.     I’anah Al-Thalibin. Juz: 4. Hal. 41
6.     Al-Lubab Fi Al-Fiqh Al-Syafi’i. Hal. 73
7.     Al-Mizan Al- Kubra. Juz: 1. Hal. 139



===============



MUSYAWWIRIN :
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

PENELITI :
1) Al_Ustadz
Brojol Gemblung
2) Al_Ustadz Wesqie
3) Al_Ustadz Guslik An-Namiri
4) Al_Ustadz Ro Fie
5) Al_Ustadz Sunde Pati
6) Al_Ustadz Imam Al-Bukhori
7) Al_Ustadz Abdulloh Salam



PERUMUS: Ibnu Malik

Rabu, 08 Oktober 2014

Orang Mati Tidak Bisa Berdo’a Untuk Dirinya Sendiri

Rop Porop
29 Juni 2014. pukul 16:13
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته


Apa benar orang yg udah meninggal dunia bisa mendo'akan orang yg msih hidup?
Klu ia, knp tidak mendo'akan dirinya sendiri?



===============



JAWABAN:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh.
Mati menurut pengertian secara umum adalah keluarnya ruh dari jasad. Sedang menurut ilmu kedokteran orang baru dikatakan mati jika jantungnya sudah berhenti berdenyut. Mati menurut Al-Qur’an adalah terpisahnya ruh dari jasad dan hidup adalah bertemunya ruh dengan jasad. Ketika seluruh ruh manusia belum memiliki jasad. Allah mengumpulkan mereka dialam ruh dan berfirman sebagai disebutkan dalam surat Al A’raaf 172:  

وإذ أخذ ربك من بني آدم من ظهورهم ذريتهم وأشهدهم على أنفسهم ألست بربكم قالوا بلى شهدنا أن تقولوا يوم القيامة إنا كنا عن هذا غافلين.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (Al A’raaf 172)

Selanjutnya Allah menciptakan tubuh manusia berupa janin didalam rahim seorang ibu, ketika usia janin mencapai 120 hari, Allah meniupkan ruh yang tersimpan dialam ruh itu kedalam rahim ibu, tiba-tiba janin itu hidup ditandai dengan mulai berdetaknya jantung janin tersebut. Itulah saat kehidupan manusia yang pertama kali. Selanjutnya ia akan lahir kedunia berupa seorang bayi kemudian tumbuh menjadi anak anak, menjadi remaja, dewasa, dan tua sampai akhirnya datang saat berpisah kembali dengan tubuh tersebut.
Ketika sampai waktu yang ditetapkan, Allah akan mengeluarkan ruh dari jasad. Kemudian Allah menyimpan ruh dialam barzakh dan jasad akan hancur dikuburkan didalam tanah. Pada hari berbangkit kelak, Allah akan menciptakan jasad yang baru, kemudia Allah meniupkan ruh yang ada di alam barzakh masuk dan menyatu dengan tubuh yang baru sebagaimana disebutkan dalam surat Yasin ayat 51-52:

ونفخ في الصور فإذا هم من الأجداث إلى ربهم ينسلون   قالوا يا ويلنا من بعثنا من مرقدنا هذا ما وعد الرحمن وصدق المرسلون .

Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya).
Itulah saat kehidupan yang kedua kali, kehidupan yang abadi dan tidak akan adalagi kematian sesudah itu. Maka pada kehidupan yang kedua kali ini, keberadaan orang yang telah mati dipertanyakan; Adakah dalam kehidupan yang baru mereka bisa mendo’akan orang yang masih hidup? Kalau mereka (orang mati) bisa berdo’a, kenapa mereka tidak berdo'a untuk diri mereka sendiri?. Inilah pertanyaan yang disampaikan oleh akhina fillah: Rop Porop.
Kami segenap anggauta musyawirin MTTM mencoba untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan tetap berpijak pada al-Qur’an dan hadis serta kesepakatan para ulama’ sebagai berikut:
Orang yang sudah meninggal bisa mendo’akan orang yang masih hidup berdasar keterangan yang terdapat didalam kitab Al-Ushul Al-Din. Hal. 218 yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda terhadap sayyidina Ali bin Abi Tholib: “wahai Ali, bersedekahlah untuk orang yang telah meninggal dunia, maka sesungguhnya Allah beserta para malaikat membawa amal dan hadiyah tersebut kepada mereka (orang yang telah meninggal) dan mereka menyambutnya dengan penuh suka cita hingga mereka pun berdo'a: "ya Robb, ampunilah dosa-dosa orang yang telah menerangi kuburanku dan bahagiakanlah mereka seperti mereka membahagiakanku".
Juga terdapat sebuah cerita tentang seorang yang berprofesi sebagai perawat mayat, penggali sekaligus penjaga kuburan bernama Shalih yang menceritkan tentang meninggalnya seorang putri raja di negara Bashrah. Diapun memulai ceritanya: Telah meninggal seorang putri raja negara Bashrah. Dia adalah perempuan tercantik di negara Bashrah. Ketika putrinya meninggal, ayahnya yang seorang raja merasa sangat terpukul dan merasa kehilangan. Aku (Shalih) pun beranjak mendekatinya dan ketika itu dia (raja Bashrah) dalam keadaan menangisi putrinya, aku melihat air mata mengalir dipipinya lalu aku mengucapkan salam kepadanya dan diapun menjawab salamku. Lalu aku berkata: "Semoga Allah mengasihi tuan, kematian adalah pasti bagi setiap mahluk dan Allah pernah berfirman kepada nabinya "kamu akan mati dan meraka juga akan mati". Sang raja pun berkata kepadaku: "wahai Shalih, engkau telah tau bahwa di negara ini tidak ada seorang wanita yang melebihi kecantikan putriku, sekarang dia telah meninggal, begitu juga suaminya padahal mereka belum dikaruniai anak yang akan mewarisi kepemimpinanku. Sebelum meninggal putriku masih berharap mendapat warisan dariku dan berwasiat dengan meminta tiga ribu dinar dari bagiannya. Seribu dinar untuk kain kafannya, seribu dinar disedekahkan atas nama dirinya lalu yang seribu dinar untuk penjaga kuburnya selama satu tahun". Akupun menjawab: "Tapi aku tidak meminta bayaran untuk merawat mayit, menggali dan menjaga kuburan untuk selama-lamanya". Sang rajapun menjawab: "Semoga Allah membalas dan memberimu rizki yang berlimpah". Lalu aku berkata: "Wahai paduka raja, aku ingin menyampikan sesuatu yang akan membuat tuan bahagia dan aku ingin putri tuan masuk kedalam kubur dengan bahagia serta mendapat rahmat dari Allah". "Silahkan" jawab sang raja. Akupun berkata: "ketika seseorang meninggal, maka kain kafan seharga seribu dinar tidak akan bermanfaat baginya, maka dari itu lebih baik, putri tuan dibelikan kain kafan seharga seratus dinar. Sisanya belikan makanan untuk dibagikan kepada orang-orang yang kelaparan, dibelikan pakaian untuk dibagikan kepada orang-orang yang tidak memiliki pakaian, dibelikan minuman untuk orang-orang yang kehausan, aku ingin putri tuan terbebas dari api neraka dan masuk kedalam kubur dengan penuh bahagia serta mendapatkan rahmat Allah". Sang rajapun menyetujui usulanku. Kemudian dilaksanakanlah prosesi pemakaman. Setelah tiga malam aku (Shalih) menjaga kuburannya dan aku melaksanakan shalat seribu raka’at, maka pada malam keempat, ketika fajar telah keluar, tiba-tiba aku diserang rasa kantuk yang teramat sangat. Lalu aku mengambil bantal untuk kemudian tidur dan demi Allah didalam tidurku, aku melihat seorang putri berdiri didepanku, dia tampak sangat cantik dengan pakaian dan perhiasan ahli surga. Lalu aku bertanya: "Siapa anda yang telah mendapat pakaian kemuliaan serta bercahaya dari Allah?". Dia menjawab: "Aku adalah putri raja Bashrah yang menghuni kuburan ini. Aku datang kepadamu untuk mengucapkan terima kasih atas apa yang telah engkau sarankan kepada ayahku agar bersedekah untukku, Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan balasan yang lebih utama". Inilah untaian do’a yang dipanjatkan oleh seorang putri di Negara Bashrah yang telah meninggal untuk seorang Shalih penjaga kuburan.
Juga berdasar anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan kita untuk mengucapkan salam kepada ahli kubur dengan ucapan "Assalaamu alaikum Ahlid diyaar minalmu'minin wal muslimin, wa Innaa insya Allah lalaahiquun, as'alullah lana wa lakumul 'aafiah.." (Salam sejahtera atas kalian wahai penduduk dari Mukminin dan Muslimin, Semoga kasih sayang Allah atas yang terdahulu dan yang akan datang, dan sungguh kami insya Allah akan menyusul kalian) (Shahih Muslim hadits no 974, 975, 976) yang mana menurut riwayat yang paling masyhur ya’ni riwayat Ibnu Abdi Al-Bar yang menshahihkan riwayat ini dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu dengan riwayat marfu' menyatakan bahwa : "tidaklah seseorang berziarah ke makam saudara muslimnya didunia, terkecuali Allah datangkan ruhnya hingga menjawab salamnya". Bukankah salam adalah bagian daripada do’a?. Maka jelas dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang telah meninggal bisa berdo’a untuk orang yang masih hidup.

Wallohu a’lam bis showab.


Sedang untuk menanggapi soal yang kedua yaitu: kalau memang orang yang sudah meninggal masih bisa berdo'a, kenapa tidak mendo'akan diri sendiri?
kami segenap anggauta musyawirin MTTM mencoba untuk mengulas sebuah hadis:

إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له

Ketika manusia telah meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal:

✔.   Shodaqoh jariyah
✔ .  Ilmu yang bermanfaat
✔ .  Anak sholih yang mau mendo'akannya.

Yang dimaksud dengan kata "انقطع" dalam hadis tersebut diatas berdasar keterangan yang terdapat didalam kitab Faidlul Qodir. Juz: 1. Hal: 561 adalah orang yang telah meninggal tidak bisa lagi mengambil manfa'at dari amalnya juga tidak bisa lagi memperbaruinya (amal). Tapi bukan berarti tidak bisa beramal (berdo’a) untuk orang yang masih hidup berdasarkan uraian sebelumnya. Intinya orang yang sudah meninggal bisa berdo'a untuk orang yang masih hidup tapi tidak bisa berdo’a untu dirinya sendiri. Abu Hurairah menyatakan: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إذا مات الإنسان انقطع عمله

Ketika manusia meninggal maka terputuslah amal baginya karena dia sudah tidak mukallaf lagi dengan keluar dari alamnya (dunia) menuju alam barzakh yang notabene bukan tempat beramal ya'ni dialam barzakh manusia tidak lagi bisa menghasilkan pahala untuk dirinya sendiri.

Wallahu a’lam bis showab.





Dasar Pengambilan (1) Oleh @ Ibnu Malik:

الميت ينتفع بما يهدى إليه من الخيرات والصدقات لقوله لعلي بن أبي طالب رضي الله عنه يا علي تصدق عن موتاك فإن الله تعالى وكل ملائكة يحملون صدقات الأحياء إليهم فيفرحون بها كأشد ما يكون من الفرح ثم يجدون أحزانا ويندمون على ما خلفوا ويقولون اللهم اغفر لمن نور قبورنا وبشره بالجنة كما بشرنا فيا أسفا على ما خلفنا من بعدنا .
 أصول الدين ص: 218




Dasar Pengambilan (2) Oleh @ Ibnu Malik:

قال: ماتت بنت قاضي البصرة، ولم يكن بالبصرة امرأة أجمل منها، فجزع عليها أبوها جزعاً شديداً، فدخلت عليه وهو يبكي أحرّ البكاء، فسلمت عليه وقلت: إن الموت حتم على الخلق،وإن الله عزّ وجلّ قال لنبيّه صلّى الله عليه وسلّم: " إنّك ميّتٌ وإنّهم ميّتون " . فقال: يا صالح، إنه لم يكن بالبصرة امرأة أجمل من ابنتي، ولا أكثر مالاً، مات عنها زوجها ولم ترزق منه ولداً، وورثت منه مالاً عظيماً، وقد أوصت إليّ أن أخرج من ثلثها ثلاثة آلاف دينار، ويعطى لحرس قبرها ألف دينار يحرس سنةً اثني عشر شهراً. قال:قلت: أما أنا فإنني أعطيت عهد الله وميثاقه أنني لا آخذ لحرس قبر، ولا لحفر قبر، ولا لغسل مست شيئاً أبداً. فقال لي: سبحان الله! ترزق رزقاً حلالاً وترده؟! قلت: نعم، وأشير عليك بشيء يسعدك الله به، ويدخل على ابنتك في قبرها السرور والرحمة؛ فقال: تكلم. قلت: إن الميت لا ينتفع أن يكفن بألف دينار، فإنه يبلى في التراب والصديد والدّود، ولكن تكفن بمئة دينار، وتضيف تسع مئة إلى الألفين، فتشتري بها الثياب والخبز والماء، فتكسو العاري، وتشبع الجائع، وتروي الظمآن، فإني أرجو أن يعتق الله ابنتك من النار، ويدخل عليه في قبرها السرور والرّحمة. فقال لي: وفقت وأشرت بخير. قال صالح، فحرست قبرها ثلاث ليال، أصلي عند قبرها ألف ركعة، فلما كان في الليلة الرابعة، وقد طلع الفجر، وأصبت نعسة، وأذن المؤذن، فأخذت لبنة فوضعتها تحت رأسي، فما هو إلا أن ذهبت في النوم، فإذا بنت القاضي قائمة بين يديّ، عليها ثياب أهل الجنة وحلي أهل الجنة. قلت: يا هذه، من أنت التي قد ألبسها الله البهاء والنور؟ قال: صاحبة القبر بنت القاضي، جئت أشكرك، نوّر الله قبرك، وجزاك عني أفضل الجزاء كما أشرت بالخير في الصدقة عني، إن الله تبارك وتعالى قد نوّر قبري، وأدخل قبري السرور والرحمة، قم حتى أريك ما أعد الله تعالى لمن مات وهو يشهد أن لا إله إلا الله
 مختصر تاريخ دمشق – 5-359




Dasar Pengambilan (3) Oleh @ Ibnu Malik:

(إذا مات الإنسان) وفي رواية : ابن آدم (انقطع عمله) أي فائدة عمله وتجديد ثوابه يعني لا تصل إليه فائدة شئ من عمله كصلاة وحج (إلا من ثلاث) أي ثلاثة أشياء فإن ثوابها لا ينقطع لكونه فعلا دائم الخير متصل النفع ، ولأنه لما كان السبب في اكتسابها كان له ثوابها (صدقة) لفظ رواية مسلم : إلا من صدقة وتبع المصنف في إسقاطها المصابيح مع ثبوتها في مسلم والحميدي وجامع الأصول والمشارق .
فيض القدير . الجز 1. صفحة 561. .




Dasar Pengambilan (4) Oleh @ Ibnu Malik:

وعن أبي هريرة رضي اللّه عنه أن رسول اللّه قال: إذا مات الإنسان انقطع عمله) لزوال التكليف بالموت ولخروجه من عالمه إلى البرزخ وليس محل عمل والمراد لازم العمل: أي أن الإنسان يتم تحصيله للثواب بنفسه بموته (إلا من ثلاث) لا تنافي بينه وبين حديث ابن ماجه عن أبي هريرة رضياللّه عنه قال: قال رسول اللّه «إنما يلحق المؤمن من عمله وحسناته بعد موته: علماً نشره، وولداً صالحاً تركه ومصحفاً ورثه، ومسجداً بناه، وبيتاً لابن السبيل بناه،.
دليل الفالحين لطريق رياض الصالحين – 6 – 252




Dasar Pengambilan (5) Oleh Al Ustadz @ Opick Syahreza:

ﻗﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﻋﻤﻠﻪ ﺇﻻ ﻣﻦ ﺛﻼﺛﺔ ﺇﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﺔ ﺟﺎﺭﻳﺔ ﺃﻭ ﻋﻠﻢ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﺃﻭ ﻭﻟﺪ ﺻﺎﻟﺢ ﻳﺪﻋﻮ ﻟﻪ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ : ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﻥ ﻋﻤﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻳﻨﻘﻄﻊ ﺑﻤﻮﺗﻪ ، ﻭﻳﻨﻘﻄﻊ ﺗﺠﺪﺩ ﺍﻟﺜﻮﺍﺏ ﻟﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﺍﻟﺚﻻﺛﺔ ; ﻟﻜﻮﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﺳﺒﺒﻬﺎ ; ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻪ ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﺧﻠﻔﻪ ﻣﻦ ﺗﻌﻠﻴﻢ ﺃﻭ ﺗﺼﻨﻴﻒ ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﺺﺩﻗﺔ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ، ﻭﻫﻲ ﺍﻟﻮﻗﻒ . ﻭﻓﻴﻪ ﻓﻀﻴﻠﺔ ﺍﻟﺰﻭﺍﺝ ﻟﺮﺟﺎﺀ ﻭﻟﺪ ﺻﺎﻟﺢ ، ﻭﻗﺪ ﺳﺒﻖ ﺑﻴﺎﻥ ﺍﺧﺘﻼﻑ ﺃﺣﻮﺍﻝ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻴﻪ ، ﻭﺃﻭﺿﺤﻨﺎ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ . ﻭﻓﻴﻪ ﺩﻟﻴﻞ ﻟﺼﺤﺔ ﺃﺻﻞ ﺍﻟﻮﻗﻒ ، ﻭﻋﻈﻴﻢ ﺛﻮﺍﺑﻪ ، ﻭﺑﻴﺎﻥ ﻓﻀﻴﻠﺔ ﺍﻟﻌﻠﻢ ، ﻭﺍﻟﺤﺚ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺳﺘﻜﺜﺎﺭ ﻣﻨﻪ . ﻭﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ ﻓﻲ ﺗﻮﺭﻳﺜﻪ ﺑﺎﻟﺘﻌﻠﻴﻢ ﻭﺍﻟﺘﺼﻨﻴﻒ ﻭﺍﻹﻳﻀﺎﺡ ، ﻭﺃﻧﻪ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﺨﺘﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻮﻡ ﺍﻷﻧﻔﻊ ﻓﺎﻷﻧﻔﻊ . ﻭﻓﻴﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻳﺼﻞ ﺛﻮﺍﺑﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻴﺖ ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ، ﻭﻫﻤﺎ ﻣﺠﻤﻊ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻗﻀﺎﺀ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻛﻤﺎ ﺳﺒﻖ . ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺤﺞ ﻓﻴﺠﺰﻱ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﻣﻮﺍﻓﻘﻴﻪ ، ﻭﻫﺬﺍ ﺩﺍﺧﻞ ﻓﻲ ﻗﻀﺎﺀ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺣﺠﺎ ﻭﺍﺟﺒﺎ ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺗﻄﻮﻋﺎ ﻭﺻﻰ ﺑﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻮﺻﺎﻳﺎ ، ﻭﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺻﻴﺎﻡ ﻓﺎﻟﺼﺤﻴﺢ ﺃﻥ ﺍﻟﻮﻟﻲ ﻳﺼﻮﻡ ﻋﻨﻪ ، ﻭﺳﺒﻘﺖ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ . ﻭﺃﻣﺎ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺟﻌﻞ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﻟﻠﻤﻴﺖ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻨﻪ ﻭﻧﺤﻮﻫﻤﺎ ﻓﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﺍﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﺃﻧﻬﺎ ﻻ ﺗﻠﺤﻖ ﺍﻟﻤﻴﺖ ، ﻭﻓﻴﻬﺎ ﺧﻼﻑ ، ﻭﺳﺒﻖ ﺇﻳﻀﺎﺣﻪ ﻓﻲ ﺃﻭﻝ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺸﺮﺡ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﻣﻘﺪﻣﺔ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ .
شرح النواوي على المسلم - الحديث 1631




Dasar Pengambilan (6) Oleh Al Ustadz @ Opick Syahreza:

ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ) ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﻋﻨﻪ ﻋﻤﻠﻪ ( ﺃﻱ : ﺃﻋﻤﺎﻟﻪ ﺑﺪﻟﻴﻞ ﺍﻻﺳﺘﺜﻨﺎﺀ ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻓﺎﺋﺪﺓ ﻋﻤﻠﻪ ﻻﻧﻘﻄﺎﻉ ﻋﻤﻠﻪ ﻳﻌﻨﻲ ﻻ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﺃﺟﺮ ﻭﺛﻮﺍﺏ ﻣﻦ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﻋﻤﻠﻪ ) ﺇﻻ ﻣﻦ ﺛﻼﺛﺔ ( ﺃﻱ : ﻡﻥ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ ، ﻓﺈﻥ ﻓﺎﺋﺪﺗﻬﺎ ﻻ ﺗﻨﻘﻄﻊ ﻋﻨﻪ ﻟﻤﺎ ﺛﺒﺖ ﻋﻨﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﺃﻧﻪ ﻳﺜﻴﺐ ﺍﻟﻤﻜﻠﻒ ﺑﻜﻞ ﻓﻌﻞ ﻳﺘﻮﻗﻒ ﻭﺝﻭﺩﻩ ﺑﻮﺟﻪ ﻣﺎ ﻋﻠﻰ ﻛﺴﺒﻪ ، ﺳﻮﺍﺀ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻤﺒﺎﺷﺮﺓ ﻭﺍﻟﺘﺴﺒﺐ ) ﺇﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﺔ ( . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺒﻲ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﻧﺴﺦ ﺍﻟﻤﺼﺎﺑﻴﺢ : ﺃﺳﻘﻄﻮﺍ ) ﺇﻻ ( ﻭﻫﻲ ﻣﺜﺒﺘﺔ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ ، ﻭﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺤﻤﻴﺪﻱ ، ﻭﺟﺎﻣﻊ ﺍﻷﺻﻮﻝ ﻭﺍﻟﻤﺸﺎﺭﻕ ، ﻭﻫﻮ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮﻩ ﺑﺪﻝ ﻣﻦ ﻗﻮﻟﻪ : ﺇﻻ ﻣﻦ ﺛﻼﺛﺔ ، ﻓﻌﻠﻰ ﺍﻟﺘﻜﺮﻳﺮ ﻓﻴﻪ ﻣﺰﻳﺪ ﺗﻘﺮﻳﺮ ﻭﺍﻋﺘﻦﺍﺀ ﺑﺸﺄﻧﻪ ﺍ ﻫـ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻷﺑﻬﺮﻱ : " ﻣﻦ " ﺯﺍﺋﺪﺓ ﻭﺍﻟﺘﻨﻮﻳﻦ ﻋﻮﺽ ﺍﻹﻋﻤﺎﻝ ، ﻭﻗﻴﻞ : ﺑﻞ ﺍﻟﻀﻤﻴﺮ ﻓﻲ ﻋﻨﻪ ﺯﺍﺋﺪ ، ﻭﻣﻌﻨﺎﻩ ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﻋﻦ ﺃﻋﻤﺎﻝﻩ ﺇﻻ ﻣﻦ ﺛﻼﺛﺔ ، ﻭﻳﺤﺘﻤﻞ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﻛﻠﺘﺎﻫﻤﺎ ﺃﺻﻠﻴﺘﺎﻥ ، ﻭﻣﻌﻨﺎﻩ ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﻋﻨﻪ ﻋﻤﻠﻪ ﻭﺍﻧﻘﻄﻊ ﻩﻭ ﻋﻦ ﻋﻤﻠﻪ ﺇﻻ ﻣﻦ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻋﻤﺎﻝ ) ﺟﺎﺭﻳﺔ ( : ﻳﺠﺮﻱ ﻧﻔﻌﻬﺎ ﻓﻴﺪﻭﻡ ﺃﺟﺮﻫﺎ ﻛﺎﻟﻮﻗﻒ ﻓﻲ ﻭﺟﻮﻩ ﺍﻟﺨﻴﺮ ، ﻭﻓﻲ ﺍﻷﺯﻫﺎﺭ ﻗﺎﻝ ﺃﻛﺜﺮﻫﻢ : ﻫﻲ ﺍﻟﻮﻗﻒ ﻭﺷﺒﻬﻪ ﻣﻤﺎ ﻳﺪﻭﻡ ﻧﻔﻌﻪ ، ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ : ﻫﻲ ﺍﻟﻘﻨﺎﺓ ﻭﺍﻟﻌﻴﻦ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﺍﻟﻤﺴﺒﻠﺔ . ﻗﻠﺖ : ﻭﻫﺬﺍ ﺩﺍﺧﻞ ﻓﻲ ﻋﻤﻮﻡ ﺍﻷﻭﻝ ، ﻭﻟﻌﻠﻬﻢ ﺃﺭﺍﺩﻭﺍ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺨﺎﺹ ﻟﻜﻦ ﻻ ﻭﺟﻪ ﻟﻠﺘﺨﺼﻴﺺ ) ﺃﻭ ﻋﻠﻢ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ( ﺃﻱ : ﺑﻌﺪ ﻣﻮﺗﻪ . ﻕﺍﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻠﻚ : ﻗﻴﺪ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﻤﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﻷﻥ ﻏﻴﺮﻩ ﻻ ﻳﺆﺗﻰ ﺑﻪ ﺃﺟﺮﺍ ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﻤﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺻﻔﺎﺗﻪ ﻭﺃﻓﻌﺎﻝﻩ ﻭﻣﻼﺋﻜﺘﻪ ، ﻭﻳﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻜﻼﻡ ، ﺃﻱ : ﺍﻟﻌﻘﺎﺋﺪ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﻜﺘﺒﻪ ، ﻭﻳﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﻭﺑﻤﻠﻜﻮﺕ ﺃﺭﺿﻪ ﻭﺱﻣﺎﺋﻪ ، ﻭﻳﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﺮﻳﺎﺿﻲ . ﺃﻗﻮﻝ : ﻭﻓﻴﻪ ﻧﻈﺮ . ﻗﺎﻝ : ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺸﺮﻳﻌﺔ ﻣﺤﻤﺪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻭﻳﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﺃﻳﻀﺎ ، ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ ﻭﺃﺻﻮﻟﻪ . ﻗﻠﺖ : ﺍﻷﻭﻟﻰ ﺍﻻﻗﺘﺼﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺥﻳﺮ ﺍﻟﻤﺸﺘﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻘﻴﺮ ﺍﻟﻘﻄﻤﻴﺮ . ) ﺃﻭ ﻭﻟﺪ ﺻﺎﻟﺢ ( ﺃﻱ : ﻣﺆﻣﻦ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻟﻪ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺍﻟﻤﻜﻲ ) ﻳﺪﻋﻮ ﻟﻪ ( . ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻠﻚ : ﻗﻴﺪ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺑﺎﻟﺼﺎﻟﺢ ﻷﻥ ﺍﻷﺟﺮ ﻻ ﻳﺤﺼﻞ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻩ ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺫﻛﺮ ﺩﻋﺎﺀﻩ ﺗﺤﺮﻳﻀﺎ ﻟﻠﻮﻟﺪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻷﺑﻴﻪ ﺣﺖﻯ ﻗﻴﻞ : ﻟﻠﻮﺍﻟﺪ ﺛﻮﺍﺏ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﺳﻮﺍﺀ ﺩﻋﺎ ﻷﺑﻴﻪ ﺃﻡ ﻻ ، ﻛﻤﺎ ﺃﻥ ﻏﺮﺱ ﺷﺠﺮﺓ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻠﻐﺎﺭﺱ ﺛﻮﺍﺏ ﺑﺄﻙﻝ ﺛﻤﺮﺗﻬﺎ ، ﺳﻮﺍﺀ ﺩﻋﺎ ﻟﻪ ﺍﻵﻛﻞ ﺃﻡ ﻻ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺒﻲ : ﺍﻻﺳﺘﺜﻨﺎﺀ ﻣﺘﺼﻞ ﺗﻘﺪﻳﺮﻩ ﻳﻨﻘﻄﻊ ﻋﻨﻪ ﺛﻮﺍﺏ ﺃﻋﻤﺎﻟﻪ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻛﺎﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ، ﻭﻻ ﻳﻨﻘﻄﻊ ﺛﻮﺍﺏ ﺃﻋﻤﺎﻟﻪ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﻳﻌﻨﻲ : ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻻ ﻳﻜﺘﺐ ﻟﻪ ﺃﺟﺮ ﺃﻋﻤﺎﻟﻪ ﻷﻧﻪ ﺟﺰﺍﺀ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﻭﻫﻮ ﻣﻨﻘﻄﻊ ﺑﻤﻮﺗﻪ ﺇﻻ ﻓﻌﻼ ﺩﺍﺋﻢ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻣﺴﺘﻤﺮ ﺍﻟﻨﻔﻊ ﻣﺜﻞ ﻭﻗﻒ ﺃﺭﺽ ﺃﻭ ﺗﺼﻨﻴﻒ ﻛﺘﺎﺏ ﺃﻭ ﺗﻌﻠﻴﻢ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻳﻌﻤﻞ ﺑﻬﺎ ، ﺃﻭ ﻭﻟﺪ ﺻﺎﻟﺢ ، ﻭﺝﻋﻞ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﻷﻧﻪ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﻓﻲ ﻭﺟﻮﺩﻩ ﺍ ﻫـ .
 مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح رقم الحديت 353.




Dasar Pengambilan (7) Oleh @ Ibnu Malik:

)إلا من ثلاثة آشياء) فيه دليل على إن ثواب هذه الثلاثة لا ينقطع بالموت قال العلماء معنى الحديث ان عمل الميت ينقطع بموته وينقطع تجدد الثواب له إلا في هذه الاشياء الثلاثة لكونه كاسبها تحفة المجتاج في شرح المنهاج.




Dasar Pengambilan (8) Oleh @ Ibnu Malik:

)انقطع عمله) اي ثوابه وأما العمل فقد انقطع في فراغه
حواشي الشرواني والعبادي - 6 - 235


Referensi Kitab:
1.     Ushul Addin. Hal: 218
2.     Mukhtashor Tarich Dimasyq. Juz: 5. Hal: 359
3.     Faidlul Qodir. Juz: 1. Hal: 561
4.     Dalil Alfalihin Li Thoriqi Riyadlis Sholihin. Juz: 6. Hal: 252
5.     Syarach Annawawi 'alal Muslim. Hadis 1631
6.     Muroqoti Al-Mafatih Syarach Misykatil Mashobih. Hal: 25.
7.     Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj.
8.     Hawasyi ssyarwani. Juz: 6. Hal: 235


===============


MUSYAWWIRIN :
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)


PENELITI :
1) Ustadz Brojol Gemblung
2) Ustadz Wesqie
3) Ustadz Abdulloh Salam
4) Ustadz Mazz Rofii
5) Ustadz Sunde Pati


PERUMUS: Ibnu Malik