JaGoarr Rhohim
22 september 2014.
Assalamu alaikum wr wb.
Mau tanya ustad, Apa hukumnya orang yang punya janji ke kaum hawa, Tapi janji itu sebelum dia belum punya suami dan sekarang dia sudah punya suami, Apa masih harus ditepati, Atau di biarkan saja janji itu ?. Mohon penjelasanx ust Wassalam.
===============
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
Puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala dengan seganap ketulusan hati, seraya mengaharap pertolongan dan hidayah Nya, agar segala kenikmatan yang telah diberikan menjadikan kita semakin mendekatkan diri kepadaNya dan menggolongkan kita sebagai orang-orang yang pandai mensyukuri ni’mat-ni’matnya.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada sang pembaharu sejati, Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam, pamungkas para Rosul sang pemberi janji dan peringatan, yang dengan kehadiranNya, Allah subhananhu wa ta’ala menyelamatkan manusia dari kesesatan, yang menunujukkan manusia kepada jalan yang lurus, yang menjadi teladan yang baik bagi manusia yang mengaharapkan Allah dan kesuksesan dihari kemudian serta mengingat Allah qiyaaman wa qu’uudan, bukrotan wa ashila.
Bagaimanakah hukum menepati janji menurut perspektif Fiqh? Hal inilah yang dipertanyakan oleh asahabat fillah JaGoarr Rhohim. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmatnya.
Maka dalam menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh sahabat fillah JaGoarr Rhohim tersebut diatas berdasar literatur yang terdapat didalam kitab-kitab klasik mu’tabar yang kami jadikan sebagai referensi, kami segenap anggauta musyawirin MTTM memiliki pandangan dan kesimpulan sebagai berikut:
Semua Ulama’ sepakat dan menyatakan bahwa hukum menunaikan janji adalah sangat dianjurkan dengan ketentuan janji yang tidak bertentangan dengan syari’at dan mengingkarinya adalah makruh. Sedang anjuran untuk menunaikan janji bersifat wajib atau sunnah adalah diuraikan sebagai berikut:
• Mayoritas Ulama’ menyatakan bahwa hukum menunaikan janji adalah sunnah. Pendapat ini diperkuat oleh Imam Syafi’i, Imam Hanafi dan Imam Ahmad. • Menurut sebagian Ulama’ yang lain menyatakan bahwa hukum menunaikan janji adalah wajib. Pendapat ini diperkuat oleh Imam Umar bin Abdu Al-Aziz dan Imam Taqiyuddin Al-Subki.
• Sedang menurut Imam Malik hukum menunaikan janji adalah ditafsil sebagai berikut: 1. Apabila janji yang diuncapkan adalah janji bersyarat (ex: Menikahlah, maka bagimu sebuah hadiah), maka hukum menunaikannya adalah wajib. 2. Apabila janji yang diucapkan adalah bukan janji bersyarat (janji mutlak), maka hukum menunaikannya adalah sunnah. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz @ Ro Fie:
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz @ Ro Fie:
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz @ PrEman Berr Tassbíihh:
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz @ Jojo Finger-looser ItmyLife:
Referensi Kitab:
1. Asnal Mathalib. Juz: 2. Hal. 486
2. Al-Majmu’ Syarch Al-Muhaddzab. Juz: 4. Hal. 653
3. Jawahir Al-‘Uqud. Juz: 1. Hal. 315
4. Tarsyich Al-Mustafsidin Syarch Fath Al-Mu’in. Hal. 363
===============
MUSYAWWIRIN :
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
PENELITI :
1) Al_Ustadz Brojol Gemblung
2) Al_Ustadz Wesqie
3) Al_Ustadz Guslik An-Namiri
4) Al_Ustadz Ro Fie
5) Al_Ustadz Sunde Pati
6) Al_Ustadz Imam Al-Bukhori
7) Al_Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik
Assalamu alaikum wr wb.
Mau tanya ustad, Apa hukumnya orang yang punya janji ke kaum hawa, Tapi janji itu sebelum dia belum punya suami dan sekarang dia sudah punya suami, Apa masih harus ditepati, Atau di biarkan saja janji itu ?. Mohon penjelasanx ust Wassalam.
===============
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
Puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala dengan seganap ketulusan hati, seraya mengaharap pertolongan dan hidayah Nya, agar segala kenikmatan yang telah diberikan menjadikan kita semakin mendekatkan diri kepadaNya dan menggolongkan kita sebagai orang-orang yang pandai mensyukuri ni’mat-ni’matnya.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada sang pembaharu sejati, Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam, pamungkas para Rosul sang pemberi janji dan peringatan, yang dengan kehadiranNya, Allah subhananhu wa ta’ala menyelamatkan manusia dari kesesatan, yang menunujukkan manusia kepada jalan yang lurus, yang menjadi teladan yang baik bagi manusia yang mengaharapkan Allah dan kesuksesan dihari kemudian serta mengingat Allah qiyaaman wa qu’uudan, bukrotan wa ashila.
Bagaimanakah hukum menepati janji menurut perspektif Fiqh? Hal inilah yang dipertanyakan oleh asahabat fillah JaGoarr Rhohim. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmatnya.
Maka dalam menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh sahabat fillah JaGoarr Rhohim tersebut diatas berdasar literatur yang terdapat didalam kitab-kitab klasik mu’tabar yang kami jadikan sebagai referensi, kami segenap anggauta musyawirin MTTM memiliki pandangan dan kesimpulan sebagai berikut:
Semua Ulama’ sepakat dan menyatakan bahwa hukum menunaikan janji adalah sangat dianjurkan dengan ketentuan janji yang tidak bertentangan dengan syari’at dan mengingkarinya adalah makruh. Sedang anjuran untuk menunaikan janji bersifat wajib atau sunnah adalah diuraikan sebagai berikut:
• Mayoritas Ulama’ menyatakan bahwa hukum menunaikan janji adalah sunnah. Pendapat ini diperkuat oleh Imam Syafi’i, Imam Hanafi dan Imam Ahmad. • Menurut sebagian Ulama’ yang lain menyatakan bahwa hukum menunaikan janji adalah wajib. Pendapat ini diperkuat oleh Imam Umar bin Abdu Al-Aziz dan Imam Taqiyuddin Al-Subki.
• Sedang menurut Imam Malik hukum menunaikan janji adalah ditafsil sebagai berikut: 1. Apabila janji yang diuncapkan adalah janji bersyarat (ex: Menikahlah, maka bagimu sebuah hadiah), maka hukum menunaikannya adalah wajib. 2. Apabila janji yang diucapkan adalah bukan janji bersyarat (janji mutlak), maka hukum menunaikannya adalah sunnah. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz @ Ro Fie:
ويتأكد
استحباب وفاء الوعد قال تعالى وأوفوا بعهد الله إذا عاهدتم وقال يا أيها
الذين آمنوا أوفوا بالعقود وقال وأوفوا بالعهد إن العهد كان مسئولا وتتأكد
كراهة خلافه أي الوعد قال تعالى يا أيها الذين آمنوا لم تقولون ما لا
تفعلون كبر مقتا عند الله أن تقولوا ما لا تفعلون وروى الشيخان خبر آية
المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان زاد مسلم في رواية
وإن صام وصلى وزعم أنه مسلم وإنما لم يجب الوفاء بالوعد ولم يحرم إخلافه
لأنه في معنى الهبة وهي لا تلزم إلا بالقبض أسنى المطالب في شرح روض الطالب
. الجز 2. صفحة 486
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz @ Ro Fie:
ويستحب الوفاء بالوعد والمسارعة به المجموع شرح المهذب . الجز 3. صفحة 635
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz @ PrEman Berr Tassbíihh:
وأجمعوا
على أن الوفاء بالوعد في الخير مطلوب. وهو هو واجب أو مستحب؟ فيه خلاف.
ذهب أبو حنيفة والشافعي وأحمد وأكثر العلماء إلى أنه مستحب. فلو تركه فاته
الفضل، وارتكب المكروه كراهة شديدة، ولكن لا يأثم. وذهب جماعة أنه واجب،
منهم: عمر بن عبد العزيز. وذهب المالكية مذهبا ثالثا: أن الوعد إن اشترط
بسبب، كقوله: تزوج ولك كذا، ونحو ذلك، وجب الوفاء به، وإن كان الوعد مطلقا
لم يجب جواهر العقود . الجز 1. صفحة 315.
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz @ Jojo Finger-looser ItmyLife:
(
تتمة) أجمعوا على أنّ الوفاء بالوعد في الخير مطلوب وهل هو مستحبّ أو واجب
ذهب الثلاثة الى الاوّل وإنّ في تركه كراهة شديدة وعليه أكثر العلماء,
وقال مالك إنّ اشتراط الوعد بسبب كقوله تزوّج ولك كذا ونحو ذلك وجب الوفاء
به وإن كان الوعد مطلقا لم يجب اه. رحمة, وإختار وجوب الوفاء بالوعد من
الشافعيّة تقي الدّين السبكي كما مرّ ذلك في البيع في بيان بيع العهدة
انتهى . ترشيح المستفيدين شرح فتح المعين للسيد علوي السقاف ص ٢٦٣
Referensi Kitab:
1. Asnal Mathalib. Juz: 2. Hal. 486
2. Al-Majmu’ Syarch Al-Muhaddzab. Juz: 4. Hal. 653
3. Jawahir Al-‘Uqud. Juz: 1. Hal. 315
4. Tarsyich Al-Mustafsidin Syarch Fath Al-Mu’in. Hal. 363
===============
MUSYAWWIRIN :
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
PENELITI :
1) Al_Ustadz Brojol Gemblung
2) Al_Ustadz Wesqie
3) Al_Ustadz Guslik An-Namiri
4) Al_Ustadz Ro Fie
5) Al_Ustadz Sunde Pati
6) Al_Ustadz Imam Al-Bukhori
7) Al_Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar