Rop
Porop
29 Juni 2014. pukul 16:13
السلام عليكم
ورحمةالله وبركاته
Apa benar orang
yg udah meninggal dunia bisa mendo'akan orang yg msih hidup?
Klu ia, knp
tidak mendo'akan dirinya sendiri?
===============
JAWABAN:
Wa’alaikumussalam
Warahmatullah Wabarakatuh.
Mati menurut
pengertian secara umum adalah keluarnya ruh dari jasad. Sedang menurut ilmu
kedokteran orang baru dikatakan mati jika jantungnya sudah berhenti berdenyut.
Mati menurut Al-Qur’an adalah terpisahnya ruh dari jasad dan hidup adalah
bertemunya ruh dengan jasad. Ketika seluruh ruh manusia belum memiliki jasad.
Allah mengumpulkan mereka dialam ruh dan berfirman sebagai disebutkan dalam
surat Al A’raaf 172:
وإذ أخذ ربك من
بني آدم من ظهورهم ذريتهم وأشهدهم على أنفسهم ألست بربكم قالوا بلى شهدنا أن
تقولوا يوم القيامة إنا كنا عن هذا غافلين.
Dan (ingatlah),
ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah
Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi
saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (Al A’raaf 172)
Selanjutnya
Allah menciptakan tubuh manusia berupa janin didalam rahim seorang ibu, ketika
usia janin mencapai 120 hari, Allah meniupkan ruh yang tersimpan dialam ruh itu
kedalam rahim ibu, tiba-tiba janin itu hidup ditandai dengan mulai berdetaknya
jantung janin tersebut. Itulah saat kehidupan manusia yang pertama kali. Selanjutnya
ia akan lahir kedunia berupa seorang bayi kemudian tumbuh menjadi anak anak,
menjadi remaja, dewasa, dan tua sampai akhirnya datang saat berpisah kembali
dengan tubuh tersebut.
Ketika sampai
waktu yang ditetapkan, Allah akan mengeluarkan ruh dari jasad. Kemudian Allah
menyimpan ruh dialam barzakh dan jasad akan hancur dikuburkan didalam tanah.
Pada hari berbangkit kelak, Allah akan menciptakan jasad yang baru, kemudia
Allah meniupkan ruh yang ada di alam barzakh masuk dan menyatu dengan tubuh
yang baru sebagaimana disebutkan dalam surat Yasin ayat 51-52:
ونفخ في الصور
فإذا هم من الأجداث إلى ربهم ينسلون قالوا يا ويلنا من بعثنا من
مرقدنا هذا ما وعد الرحمن وصدق المرسلون .
Dan ditiuplah
sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju)
kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang
membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan
(Allah) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya).
Itulah saat
kehidupan yang kedua kali, kehidupan yang abadi dan tidak akan adalagi kematian
sesudah itu. Maka pada kehidupan yang kedua kali ini, keberadaan orang yang
telah mati dipertanyakan; Adakah dalam kehidupan yang baru mereka bisa
mendo’akan orang yang masih hidup? Kalau mereka (orang mati) bisa berdo’a, kenapa
mereka tidak berdo'a untuk diri mereka sendiri?. Inilah pertanyaan yang
disampaikan oleh akhina fillah: Rop Porop.
Kami segenap
anggauta musyawirin MTTM mencoba untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan
tersebut dengan tetap berpijak pada al-Qur’an dan hadis serta kesepakatan para
ulama’ sebagai berikut:
Orang yang
sudah meninggal bisa mendo’akan orang yang masih hidup berdasar keterangan yang
terdapat didalam kitab Al-Ushul Al-Din. Hal. 218 yang menyatakan bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda terhadap sayyidina Ali
bin Abi Tholib: “wahai Ali, bersedekahlah untuk orang yang telah meninggal
dunia, maka sesungguhnya Allah beserta para malaikat membawa amal dan hadiyah
tersebut kepada mereka (orang yang telah meninggal) dan mereka menyambutnya
dengan penuh suka cita hingga mereka pun berdo'a: "ya Robb, ampunilah
dosa-dosa orang yang telah menerangi kuburanku dan bahagiakanlah mereka seperti
mereka membahagiakanku".
Juga terdapat
sebuah cerita tentang seorang yang berprofesi sebagai perawat mayat, penggali
sekaligus penjaga kuburan bernama Shalih yang menceritkan tentang meninggalnya
seorang putri raja di negara Bashrah. Diapun memulai ceritanya: Telah meninggal
seorang putri raja negara Bashrah. Dia adalah perempuan tercantik di negara Bashrah.
Ketika putrinya meninggal, ayahnya yang seorang raja merasa sangat terpukul dan
merasa kehilangan. Aku (Shalih) pun beranjak mendekatinya dan ketika itu dia (raja
Bashrah) dalam keadaan menangisi putrinya, aku melihat air mata mengalir
dipipinya lalu aku mengucapkan salam kepadanya dan diapun menjawab salamku.
Lalu aku berkata: "Semoga Allah mengasihi tuan, kematian adalah pasti bagi
setiap mahluk dan Allah pernah berfirman kepada nabinya "kamu akan mati
dan meraka juga akan mati". Sang raja pun berkata kepadaku: "wahai
Shalih, engkau telah tau bahwa di negara ini tidak ada seorang wanita yang
melebihi kecantikan putriku, sekarang dia telah meninggal, begitu juga suaminya
padahal mereka belum dikaruniai anak yang akan mewarisi kepemimpinanku. Sebelum
meninggal putriku masih berharap mendapat warisan dariku dan berwasiat dengan
meminta tiga ribu dinar dari bagiannya. Seribu dinar untuk kain kafannya,
seribu dinar disedekahkan atas nama dirinya lalu yang seribu dinar untuk
penjaga kuburnya selama satu tahun". Akupun menjawab: "Tapi aku tidak
meminta bayaran untuk merawat mayit, menggali dan menjaga kuburan untuk
selama-lamanya". Sang rajapun menjawab: "Semoga Allah membalas dan
memberimu rizki yang berlimpah". Lalu aku berkata: "Wahai paduka raja,
aku ingin menyampikan sesuatu yang akan membuat tuan bahagia dan aku ingin
putri tuan masuk kedalam kubur dengan bahagia serta mendapat rahmat dari
Allah". "Silahkan" jawab sang raja. Akupun berkata: "ketika
seseorang meninggal, maka kain kafan seharga seribu dinar tidak akan bermanfaat
baginya, maka dari itu lebih baik, putri tuan dibelikan kain kafan seharga
seratus dinar. Sisanya belikan makanan untuk dibagikan kepada orang-orang yang
kelaparan, dibelikan pakaian untuk dibagikan kepada orang-orang yang tidak
memiliki pakaian, dibelikan minuman untuk orang-orang yang kehausan, aku ingin
putri tuan terbebas dari api neraka dan masuk kedalam kubur dengan penuh
bahagia serta mendapatkan rahmat Allah". Sang rajapun menyetujui usulanku.
Kemudian dilaksanakanlah prosesi pemakaman. Setelah tiga malam aku (Shalih)
menjaga kuburannya dan aku melaksanakan shalat seribu raka’at, maka pada malam
keempat, ketika fajar telah keluar, tiba-tiba aku diserang rasa kantuk yang
teramat sangat. Lalu aku mengambil bantal untuk kemudian tidur dan demi Allah
didalam tidurku, aku melihat seorang putri berdiri didepanku, dia tampak sangat
cantik dengan pakaian dan perhiasan ahli surga. Lalu aku bertanya: "Siapa
anda yang telah mendapat pakaian kemuliaan serta bercahaya dari Allah?".
Dia menjawab: "Aku adalah putri raja Bashrah yang menghuni kuburan ini.
Aku datang kepadamu untuk mengucapkan terima kasih atas apa yang telah engkau
sarankan kepada ayahku agar bersedekah untukku, Semoga Allah membalas
kebaikanmu dengan balasan yang lebih utama". Inilah untaian do’a yang
dipanjatkan oleh seorang putri di Negara Bashrah yang telah meninggal untuk
seorang Shalih penjaga kuburan.
Juga berdasar
anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan kita untuk
mengucapkan salam kepada ahli kubur dengan ucapan "Assalaamu alaikum Ahlid
diyaar minalmu'minin wal muslimin, wa Innaa insya Allah lalaahiquun, as'alullah
lana wa lakumul 'aafiah.." (Salam sejahtera atas kalian wahai penduduk
dari Mukminin dan Muslimin, Semoga kasih sayang Allah atas yang terdahulu dan
yang akan datang, dan sungguh kami insya Allah akan menyusul kalian) (Shahih
Muslim hadits no 974, 975, 976) yang mana menurut riwayat yang paling masyhur
ya’ni riwayat Ibnu Abdi Al-Bar yang menshahihkan riwayat ini dari Ibnu Abbas
radliyallahu ‘anhu dengan riwayat marfu' menyatakan bahwa : "tidaklah
seseorang berziarah ke makam saudara muslimnya didunia, terkecuali Allah datangkan
ruhnya hingga menjawab salamnya". Bukankah salam adalah bagian daripada
do’a?. Maka jelas dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang telah meninggal
bisa berdo’a untuk orang yang masih hidup.
Wallohu a’lam
bis showab.
Sedang untuk
menanggapi soal yang kedua yaitu: kalau memang orang yang sudah meninggal masih
bisa berdo'a, kenapa tidak mendo'akan diri sendiri?
kami segenap
anggauta musyawirin MTTM mencoba untuk mengulas sebuah hadis:
إذا مات الإنسان
انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له
Ketika manusia
telah meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal:
✔. Shodaqoh jariyah
✔ . Ilmu yang bermanfaat
✔ . Anak sholih yang mau mendo'akannya.
Yang dimaksud
dengan kata "انقطع" dalam hadis tersebut diatas berdasar keterangan yang
terdapat didalam kitab Faidlul Qodir. Juz: 1. Hal: 561 adalah orang yang telah
meninggal tidak bisa lagi mengambil manfa'at dari amalnya juga tidak bisa lagi
memperbaruinya (amal). Tapi bukan berarti tidak bisa beramal (berdo’a) untuk orang
yang masih hidup berdasarkan uraian sebelumnya. Intinya orang yang sudah
meninggal bisa berdo'a untuk orang yang masih hidup tapi tidak bisa berdo’a
untu dirinya sendiri. Abu Hurairah menyatakan: Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إذا مات الإنسان
انقطع عمله
Ketika manusia
meninggal maka terputuslah amal baginya karena dia sudah tidak mukallaf lagi
dengan keluar dari alamnya (dunia) menuju alam barzakh yang notabene bukan
tempat beramal ya'ni dialam barzakh manusia tidak lagi bisa menghasilkan pahala
untuk dirinya sendiri.
Wallahu a’lam
bis showab.
Dasar
Pengambilan (1) Oleh @ Ibnu
Malik:
الميت ينتفع بما
يهدى إليه من الخيرات والصدقات لقوله لعلي بن أبي طالب رضي الله عنه يا علي تصدق
عن موتاك فإن الله تعالى وكل ملائكة يحملون صدقات الأحياء إليهم فيفرحون بها كأشد
ما يكون من الفرح ثم يجدون أحزانا ويندمون على ما خلفوا ويقولون اللهم اغفر لمن
نور قبورنا وبشره بالجنة كما بشرنا فيا أسفا على ما خلفنا من بعدنا .
أصول الدين ص: 218
Dasar
Pengambilan (2) Oleh @ Ibnu
Malik:
قال: ماتت بنت
قاضي البصرة، ولم يكن بالبصرة امرأة أجمل منها، فجزع عليها أبوها جزعاً شديداً،
فدخلت عليه وهو يبكي أحرّ البكاء، فسلمت عليه وقلت: إن الموت حتم على الخلق،وإن
الله عزّ وجلّ قال لنبيّه صلّى الله عليه وسلّم: " إنّك ميّتٌ وإنّهم ميّتون
" . فقال: يا صالح، إنه لم يكن بالبصرة امرأة أجمل من ابنتي، ولا أكثر مالاً،
مات عنها زوجها ولم ترزق منه ولداً، وورثت منه مالاً عظيماً، وقد أوصت إليّ أن
أخرج من ثلثها ثلاثة آلاف دينار، ويعطى لحرس قبرها ألف دينار يحرس سنةً اثني عشر
شهراً. قال:قلت: أما أنا فإنني أعطيت عهد الله وميثاقه أنني لا آخذ لحرس قبر، ولا
لحفر قبر، ولا لغسل مست شيئاً أبداً. فقال لي: سبحان الله! ترزق رزقاً حلالاً
وترده؟! قلت: نعم، وأشير عليك بشيء يسعدك الله به، ويدخل على ابنتك في قبرها
السرور والرحمة؛ فقال: تكلم. قلت: إن الميت لا ينتفع أن يكفن بألف دينار، فإنه
يبلى في التراب والصديد والدّود، ولكن تكفن بمئة دينار، وتضيف تسع مئة إلى
الألفين، فتشتري بها الثياب والخبز والماء، فتكسو العاري، وتشبع الجائع، وتروي
الظمآن، فإني أرجو أن يعتق الله ابنتك من النار، ويدخل عليه في قبرها السرور
والرّحمة. فقال لي: وفقت وأشرت بخير. قال صالح، فحرست قبرها ثلاث ليال، أصلي عند
قبرها ألف ركعة، فلما كان في الليلة الرابعة، وقد طلع الفجر، وأصبت نعسة، وأذن
المؤذن، فأخذت لبنة فوضعتها تحت رأسي، فما هو إلا أن ذهبت في النوم، فإذا بنت
القاضي قائمة بين يديّ، عليها ثياب أهل الجنة وحلي أهل الجنة. قلت: يا هذه، من أنت
التي قد ألبسها الله البهاء والنور؟ قال: صاحبة القبر بنت القاضي، جئت أشكرك، نوّر
الله قبرك، وجزاك عني أفضل الجزاء كما أشرت بالخير في الصدقة عني، إن الله تبارك
وتعالى قد نوّر قبري، وأدخل قبري السرور والرحمة، قم حتى أريك ما أعد الله تعالى
لمن مات وهو يشهد أن لا إله إلا الله
مختصر تاريخ دمشق – 5-359
Dasar
Pengambilan (3) Oleh @ Ibnu
Malik:
(إذا
مات الإنسان) وفي رواية : ابن آدم (انقطع عمله) أي فائدة عمله وتجديد ثوابه يعني
لا تصل إليه فائدة شئ من عمله كصلاة وحج (إلا من ثلاث) أي ثلاثة أشياء فإن ثوابها
لا ينقطع لكونه فعلا دائم الخير متصل النفع ، ولأنه لما كان السبب في اكتسابها كان
له ثوابها (صدقة) لفظ رواية مسلم : إلا من صدقة وتبع المصنف في إسقاطها المصابيح
مع ثبوتها في مسلم والحميدي وجامع الأصول والمشارق .
فيض القدير .
الجز 1. صفحة 561. .
Dasar
Pengambilan (4) Oleh @ Ibnu
Malik:
وعن أبي هريرة
رضي اللّه عنه أن رسول اللّه قال: إذا مات الإنسان انقطع عمله) لزوال التكليف
بالموت ولخروجه من عالمه إلى البرزخ وليس محل عمل والمراد لازم العمل: أي أن
الإنسان يتم تحصيله للثواب بنفسه بموته (إلا من ثلاث) لا تنافي بينه وبين حديث ابن
ماجه عن أبي هريرة رضياللّه عنه قال: قال رسول اللّه «إنما يلحق المؤمن من عمله
وحسناته بعد موته: علماً نشره، وولداً صالحاً تركه ومصحفاً ورثه، ومسجداً بناه،
وبيتاً لابن السبيل بناه،.
دليل الفالحين
لطريق رياض الصالحين – 6 – 252
Dasar
Pengambilan (5) Oleh Al Ustadz @ Opick Syahreza:
ﻗﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﻋﻤﻠﻪ ﺇﻻ ﻣﻦ ﺛﻼﺛﺔ ﺇﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﺔ ﺟﺎﺭﻳﺔ ﺃﻭ ﻋﻠﻢ ﻳﻨﺘﻔﻊ
ﺑﻪ ﺃﻭ ﻭﻟﺪ ﺻﺎﻟﺢ ﻳﺪﻋﻮ ﻟﻪ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ : ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﻥ ﻋﻤﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻳﻨﻘﻄﻊ ﺑﻤﻮﺗﻪ ،
ﻭﻳﻨﻘﻄﻊ ﺗﺠﺪﺩ ﺍﻟﺜﻮﺍﺏ ﻟﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﺍﻟﺚﻻﺛﺔ ; ﻟﻜﻮﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﺳﺒﺒﻬﺎ ; ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻣﻦ
ﻛﺴﺒﻪ ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﺧﻠﻔﻪ ﻣﻦ ﺗﻌﻠﻴﻢ ﺃﻭ ﺗﺼﻨﻴﻒ ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﺺﺩﻗﺔ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ، ﻭﻫﻲ
ﺍﻟﻮﻗﻒ . ﻭﻓﻴﻪ ﻓﻀﻴﻠﺔ ﺍﻟﺰﻭﺍﺝ ﻟﺮﺟﺎﺀ ﻭﻟﺪ ﺻﺎﻟﺢ ، ﻭﻗﺪ ﺳﺒﻖ ﺑﻴﺎﻥ ﺍﺧﺘﻼﻑ ﺃﺣﻮﺍﻝ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻴﻪ ،
ﻭﺃﻭﺿﺤﻨﺎ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ . ﻭﻓﻴﻪ ﺩﻟﻴﻞ ﻟﺼﺤﺔ ﺃﺻﻞ ﺍﻟﻮﻗﻒ ، ﻭﻋﻈﻴﻢ ﺛﻮﺍﺑﻪ ، ﻭﺑﻴﺎﻥ
ﻓﻀﻴﻠﺔ ﺍﻟﻌﻠﻢ ، ﻭﺍﻟﺤﺚ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺳﺘﻜﺜﺎﺭ ﻣﻨﻪ . ﻭﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ ﻓﻲ ﺗﻮﺭﻳﺜﻪ ﺑﺎﻟﺘﻌﻠﻴﻢ ﻭﺍﻟﺘﺼﻨﻴﻒ
ﻭﺍﻹﻳﻀﺎﺡ ، ﻭﺃﻧﻪ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﺨﺘﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻮﻡ ﺍﻷﻧﻔﻊ ﻓﺎﻷﻧﻔﻊ . ﻭﻓﻴﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻳﺼﻞ ﺛﻮﺍﺑﻪ
ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻴﺖ ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ، ﻭﻫﻤﺎ ﻣﺠﻤﻊ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻗﻀﺎﺀ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻛﻤﺎ ﺳﺒﻖ . ﻭﺃﻣﺎ
ﺍﻟﺤﺞ ﻓﻴﺠﺰﻱ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﻣﻮﺍﻓﻘﻴﻪ ، ﻭﻫﺬﺍ ﺩﺍﺧﻞ ﻓﻲ ﻗﻀﺎﺀ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺣﺠﺎ
ﻭﺍﺟﺒﺎ ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺗﻄﻮﻋﺎ ﻭﺻﻰ ﺑﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻮﺻﺎﻳﺎ ، ﻭﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺻﻴﺎﻡ
ﻓﺎﻟﺼﺤﻴﺢ ﺃﻥ ﺍﻟﻮﻟﻲ ﻳﺼﻮﻡ ﻋﻨﻪ ، ﻭﺳﺒﻘﺖ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ . ﻭﺃﻣﺎ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ
ﻭﺟﻌﻞ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﻟﻠﻤﻴﺖ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻨﻪ ﻭﻧﺤﻮﻫﻤﺎ ﻓﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﺍﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﺃﻧﻬﺎ ﻻ ﺗﻠﺤﻖ ﺍﻟﻤﻴﺖ ،
ﻭﻓﻴﻬﺎ ﺧﻼﻑ ، ﻭﺳﺒﻖ ﺇﻳﻀﺎﺣﻪ ﻓﻲ ﺃﻭﻝ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺸﺮﺡ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﻣﻘﺪﻣﺔ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ .
شرح النواوي على
المسلم - الحديث 1631
Dasar Pengambilan
(6) Oleh Al Ustadz @ Opick
Syahreza:
ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ
ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ) ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﻋﻨﻪ ﻋﻤﻠﻪ ( ﺃﻱ
: ﺃﻋﻤﺎﻟﻪ ﺑﺪﻟﻴﻞ ﺍﻻﺳﺘﺜﻨﺎﺀ ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻓﺎﺋﺪﺓ ﻋﻤﻠﻪ ﻻﻧﻘﻄﺎﻉ ﻋﻤﻠﻪ ﻳﻌﻨﻲ ﻻ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﺃﺟﺮ
ﻭﺛﻮﺍﺏ ﻣﻦ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﻋﻤﻠﻪ ) ﺇﻻ ﻣﻦ ﺛﻼﺛﺔ ( ﺃﻱ : ﻡﻥ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ ، ﻓﺈﻥ ﻓﺎﺋﺪﺗﻬﺎ ﻻ ﺗﻨﻘﻄﻊ
ﻋﻨﻪ ﻟﻤﺎ ﺛﺒﺖ ﻋﻨﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﺃﻧﻪ ﻳﺜﻴﺐ ﺍﻟﻤﻜﻠﻒ ﺑﻜﻞ ﻓﻌﻞ ﻳﺘﻮﻗﻒ ﻭﺝﻭﺩﻩ ﺑﻮﺟﻪ ﻣﺎ ﻋﻠﻰ ﻛﺴﺒﻪ ،
ﺳﻮﺍﺀ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻤﺒﺎﺷﺮﺓ ﻭﺍﻟﺘﺴﺒﺐ ) ﺇﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﺔ ( . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺒﻲ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﻧﺴﺦ ﺍﻟﻤﺼﺎﺑﻴﺢ :
ﺃﺳﻘﻄﻮﺍ ) ﺇﻻ ( ﻭﻫﻲ ﻣﺜﺒﺘﺔ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ ، ﻭﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺤﻤﻴﺪﻱ ، ﻭﺟﺎﻣﻊ ﺍﻷﺻﻮﻝ ﻭﺍﻟﻤﺸﺎﺭﻕ ،
ﻭﻫﻮ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮﻩ ﺑﺪﻝ ﻣﻦ ﻗﻮﻟﻪ : ﺇﻻ ﻣﻦ ﺛﻼﺛﺔ ، ﻓﻌﻠﻰ ﺍﻟﺘﻜﺮﻳﺮ ﻓﻴﻪ ﻣﺰﻳﺪ ﺗﻘﺮﻳﺮ ﻭﺍﻋﺘﻦﺍﺀ
ﺑﺸﺄﻧﻪ ﺍ ﻫـ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻷﺑﻬﺮﻱ : " ﻣﻦ " ﺯﺍﺋﺪﺓ ﻭﺍﻟﺘﻨﻮﻳﻦ ﻋﻮﺽ ﺍﻹﻋﻤﺎﻝ ، ﻭﻗﻴﻞ :
ﺑﻞ ﺍﻟﻀﻤﻴﺮ ﻓﻲ ﻋﻨﻪ ﺯﺍﺋﺪ ، ﻭﻣﻌﻨﺎﻩ ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﻋﻦ ﺃﻋﻤﺎﻝﻩ ﺇﻻ ﻣﻦ ﺛﻼﺛﺔ ،
ﻭﻳﺤﺘﻤﻞ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﻛﻠﺘﺎﻫﻤﺎ ﺃﺻﻠﻴﺘﺎﻥ ، ﻭﻣﻌﻨﺎﻩ ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﻋﻨﻪ ﻋﻤﻠﻪ ﻭﺍﻧﻘﻄﻊ ﻩﻭ
ﻋﻦ ﻋﻤﻠﻪ ﺇﻻ ﻣﻦ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻋﻤﺎﻝ ) ﺟﺎﺭﻳﺔ ( : ﻳﺠﺮﻱ ﻧﻔﻌﻬﺎ ﻓﻴﺪﻭﻡ ﺃﺟﺮﻫﺎ ﻛﺎﻟﻮﻗﻒ ﻓﻲ ﻭﺟﻮﻩ
ﺍﻟﺨﻴﺮ ، ﻭﻓﻲ ﺍﻷﺯﻫﺎﺭ ﻗﺎﻝ ﺃﻛﺜﺮﻫﻢ : ﻫﻲ ﺍﻟﻮﻗﻒ ﻭﺷﺒﻬﻪ ﻣﻤﺎ ﻳﺪﻭﻡ ﻧﻔﻌﻪ ، ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ : ﻫﻲ
ﺍﻟﻘﻨﺎﺓ ﻭﺍﻟﻌﻴﻦ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﺍﻟﻤﺴﺒﻠﺔ . ﻗﻠﺖ : ﻭﻫﺬﺍ ﺩﺍﺧﻞ ﻓﻲ ﻋﻤﻮﻡ ﺍﻷﻭﻝ ، ﻭﻟﻌﻠﻬﻢ ﺃﺭﺍﺩﻭﺍ
ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺨﺎﺹ ﻟﻜﻦ ﻻ ﻭﺟﻪ ﻟﻠﺘﺨﺼﻴﺺ ) ﺃﻭ ﻋﻠﻢ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ( ﺃﻱ : ﺑﻌﺪ ﻣﻮﺗﻪ . ﻕﺍﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻠﻚ :
ﻗﻴﺪ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﻤﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﻷﻥ ﻏﻴﺮﻩ ﻻ ﻳﺆﺗﻰ ﺑﻪ ﺃﺟﺮﺍ ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﻤﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﻠﻪ
ﻭﺻﻔﺎﺗﻪ ﻭﺃﻓﻌﺎﻝﻩ ﻭﻣﻼﺋﻜﺘﻪ ، ﻭﻳﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻜﻼﻡ ، ﺃﻱ : ﺍﻟﻌﻘﺎﺋﺪ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﻜﺘﺒﻪ ،
ﻭﻳﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﻭﺑﻤﻠﻜﻮﺕ ﺃﺭﺿﻪ ﻭﺱﻣﺎﺋﻪ ، ﻭﻳﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﺮﻳﺎﺿﻲ . ﺃﻗﻮﻝ : ﻭﻓﻴﻪ ﻧﻈﺮ
. ﻗﺎﻝ : ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺸﺮﻳﻌﺔ ﻣﺤﻤﺪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻭﻳﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﺃﻳﻀﺎ ،
ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ ﻭﺃﺻﻮﻟﻪ . ﻗﻠﺖ : ﺍﻷﻭﻟﻰ ﺍﻻﻗﺘﺼﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺥﻳﺮ ﺍﻟﻤﺸﺘﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻘﻴﺮ
ﺍﻟﻘﻄﻤﻴﺮ . ) ﺃﻭ ﻭﻟﺪ ﺻﺎﻟﺢ ( ﺃﻱ : ﻣﺆﻣﻦ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻟﻪ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺍﻟﻤﻜﻲ ) ﻳﺪﻋﻮ ﻟﻪ ( . ﻗﺎﻝ
ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻠﻚ : ﻗﻴﺪ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺑﺎﻟﺼﺎﻟﺢ ﻷﻥ ﺍﻷﺟﺮ ﻻ ﻳﺤﺼﻞ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻩ ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺫﻛﺮ ﺩﻋﺎﺀﻩ ﺗﺤﺮﻳﻀﺎ
ﻟﻠﻮﻟﺪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻷﺑﻴﻪ ﺣﺖﻯ ﻗﻴﻞ : ﻟﻠﻮﺍﻟﺪ ﺛﻮﺍﺏ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﺳﻮﺍﺀ ﺩﻋﺎ ﻷﺑﻴﻪ
ﺃﻡ ﻻ ، ﻛﻤﺎ ﺃﻥ ﻏﺮﺱ ﺷﺠﺮﺓ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻠﻐﺎﺭﺱ ﺛﻮﺍﺏ ﺑﺄﻙﻝ ﺛﻤﺮﺗﻬﺎ ، ﺳﻮﺍﺀ ﺩﻋﺎ ﻟﻪ ﺍﻵﻛﻞ ﺃﻡ ﻻ .
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺒﻲ : ﺍﻻﺳﺘﺜﻨﺎﺀ ﻣﺘﺼﻞ ﺗﻘﺪﻳﺮﻩ ﻳﻨﻘﻄﻊ ﻋﻨﻪ ﺛﻮﺍﺏ ﺃﻋﻤﺎﻟﻪ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻛﺎﻟﺼﻼﺓ
ﻭﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ، ﻭﻻ ﻳﻨﻘﻄﻊ ﺛﻮﺍﺏ ﺃﻋﻤﺎﻟﻪ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﻳﻌﻨﻲ : ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻻ ﻳﻜﺘﺐ ﻟﻪ
ﺃﺟﺮ ﺃﻋﻤﺎﻟﻪ ﻷﻧﻪ ﺟﺰﺍﺀ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﻭﻫﻮ ﻣﻨﻘﻄﻊ ﺑﻤﻮﺗﻪ ﺇﻻ ﻓﻌﻼ ﺩﺍﺋﻢ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻣﺴﺘﻤﺮ ﺍﻟﻨﻔﻊ ﻣﺜﻞ ﻭﻗﻒ
ﺃﺭﺽ ﺃﻭ ﺗﺼﻨﻴﻒ ﻛﺘﺎﺏ ﺃﻭ ﺗﻌﻠﻴﻢ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻳﻌﻤﻞ ﺑﻬﺎ ، ﺃﻭ ﻭﻟﺪ ﺻﺎﻟﺢ ، ﻭﺝﻋﻞ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻤﻞ
ﻷﻧﻪ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﻓﻲ ﻭﺟﻮﺩﻩ ﺍ ﻫـ .
مرقاة
المفاتيح شرح مشكاة المصابيح رقم الحديت 353.
Dasar
Pengambilan (7) Oleh @ Ibnu
Malik:
)إلا
من ثلاثة آشياء) فيه دليل على إن ثواب هذه الثلاثة لا ينقطع بالموت قال العلماء
معنى الحديث ان عمل الميت ينقطع بموته وينقطع تجدد الثواب له إلا في هذه الاشياء
الثلاثة لكونه كاسبها تحفة المجتاج في شرح المنهاج.
Dasar
Pengambilan (8) Oleh @ Ibnu Malik:
)انقطع
عمله) اي ثوابه وأما العمل فقد انقطع في فراغه
حواشي الشرواني
والعبادي - 6 - 235
Referensi
Kitab:
1.
Ushul Addin. Hal: 218
2.
Mukhtashor Tarich Dimasyq. Juz: 5. Hal: 359
3.
Faidlul Qodir. Juz: 1. Hal: 561
4.
Dalil Alfalihin Li Thoriqi Riyadlis Sholihin.
Juz: 6. Hal: 252
5. Syarach Annawawi 'alal Muslim. Hadis 1631
5. Syarach Annawawi 'alal Muslim. Hadis 1631
6.
Muroqoti Al-Mafatih Syarach Misykatil Mashobih.
Hal: 25.
7.
Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj.
8.
Hawasyi ssyarwani. Juz: 6. Hal: 235
===============
MUSYAWWIRIN :
Member Group
Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
PENELITI :
1) Ustadz Brojol Gemblung
2) Ustadz Wesqie
3) Ustadz Abdulloh Salam
4) Ustadz Mazz Rofii
5) Ustadz Sunde Pati
PERUMUS: Ibnu Malik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar